Menakar Tafsir Makna “Pungo” di Aceh

Andi Suyatno

Mesjid Raya Baiturahman. Foto: Disbudpar Aceh.

Ketika berakhirnya Aceh perang melawan kolonial Belanda pada tahun 1904, hal itu ditandai dengan menyerahnya Sultan Aceh pada Januari 1904, maka secara otomatis perang Aceh secara resmi telah berakhir, namun perlawan terhadap kolonial Belanda tetap dilakukan dengan metode sporandis alias secara individu.

Metode pembunuhan khas Aceh ini dilakukan pejuang Aceh dengan berani menyerang orang-orang Belanda hanya bermodalkan rencong, para pejuang Aceh ini, nekad membunuh siapa sardadu-serdadu Belanda, di mana saja baik itu, di taman-taman, jalan, pasar, ataupun tangsi-tangsi Belanda. Sepanjang tahun tahun 1910-1937 tercatat 120 serangan frontal yang dilakukan oleh pejuang Aceh terhadap Belanda.

Karena tindakan frontal pejuang Aceh Pemerintah Kolonial Belanda mengatakan bahwa tidak mungkin dilakukan oleh manusia waras, sehingga timbullah istilah di kalangan Belanda dengan istilah ekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh pungo (Aceh gila).

Memang perang kolonial Belanda telah berakhir 76 tahun yang lalu, namun jejak spritualitas Aceh pungo masih mengebu di hati masyarakat Aceh.Realitanya dapat dilihat ketika pada masa Orde Baru (Orba) berkuasa di bawah telapak kaki Golongan Karya (Golkar) ingin memenangi pertarungan legislatif di Aceh, maka pola dilalukan dengan merekrut para kader-kader dari golongan dayah, kemudian Golkar berhasil menaklukan Aceh dengan suara yang signifikan mengalahkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), padahal PPP merupakan partai yang bernafaskan Islam tetapi kalah di Aceh, memang pola rekrutmen Golkar telah membuat rakyat Aceh pungo dengan kefiguran seseorang sehingga melupakan partai yang berlambang ka’bah tersebut.

Ragam Pungo di Aceh

Spiritulitas Aceh pungo memang seiring dengan perkembangan zaman sudah mulai terkikis dengan kemajuan teknologi dan pengarus globalisasi, namun demikian spirit Aceh pungo telah berubah ke dalam dimensi yang berbeda, oleh karena itu, izinkan penulis membahas ragam pungo yang ada di Aceh.

Menurut analisis penulis ada beberapa macam dimensi sprituliatas Aceh pungo yang ada sampai sekarang. Di antaranya adalah, pertama, pungo dipujo (gila pujian), gila ini memang kerap digunakan oleh politisi dan elit-elit, tokoh nasional untuk memprogandakan dan memuluskan kepentingan mereka di Tanoh Rincong. Setiap mereka datang ke Aceh mereka selalu memprogandakan bahwa Aceh adalah wilayah yang paling setia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Aceh lokomotif Islam di Indonesia, dan berbagai macam pujian lainnya yang selalu dilakukan stakholder pemangku kepentingan.

Walaupun pada akhirnya mereka jarang menepati janjinya apa yang telah dijanjikan, janji manis seolah sirna begitu saja. Namun pada akhirnya masyarakat Aceh tetap senang dipuji dengan puji-pujian yang seolah menjadi suatu kebanggaan menjadi masyarakat Aceh, walaupun akhirnya ditipu oleh si tukang pemuji.

Kedua, pungo kerja dinas, orang Aceh umumnya, sangat memilah untuk memilih pekerjaan terutama, para lulusan sarjana,kebanyakan lulusan sarjana di Aceh tidak mau bekerja untuk berwirausaha alias menjadi pengusaha, namun malah berlomba-lomba untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal itu dibuktikan dengan jumlah Calon Peserta Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang mencapai 38.000 Ribu di Kementrian Hukum dan HAM (kemenkumham).

Entah apa yang dipikirkan oleh anak-anak muda sehingga berlomba-lomba menjadi PNS, Padahal banyak sekali lahan pertanian yang masih kosong dan begitu luas tidak digarap bahkan tidur dalam berkepanjangan tidak mau digarap potensinya. Potensi lainnya yang menghasilkan pundi-pundi rupiah seperti, industri kelautan juga dikelola oleh anak-anak muda juga dapat membangun perekonomian masyarakat. Dan banyak sekali potensi perekonomian jika digarap dan dikelola menghasilkan potensi suaka ekonomi. Namun frame yang berkembang di masyarakat tolok ukur kesuksesan seseorang adalah menjadi PNS, sebab itulah penulis menyebut sebagian orang Aceh pungo kerja dinas.

Ketiga, pungo cinta, di Aceh kecintaan terhadap agama sangatlah besar. Ulama sangat dihormati, kalam ulama menjadi kata yang mujarab untuk meredam perselisihan dan sengketa antar sesama masyarakat.

Keempat, pungo beuhe (berani), arti dari pungo ini adalah bagaimana spirit keberanian orang Aceh telah melumpuhkan daya juang penjajah Belanda sehingga pada tahun 1942, Aceh merupakan salah satu wilayah yang paling pertama ditinggali Belanda ketika Belanda menyerahkan wilayah Indonesia kepada Jepang.

Spirit pungo beuhe keberanian juga pernah dilakukan masyarakat Aceh dengan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia, pada tahun 1953-1962 dibawah pimpinan Tgk Daud Beureuh dibawah panji perjuangan Darul Islam (DI ) Tentara Islam Indonesia (TII) dan pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1976-2005.

Berbicara secara fakta memang tidak dapat dipungkiri semangat pungo beuhe untuk mempertahankan identitas dan marwah hanya dilakukan oleh orang-orang Aceh saja, tidak dilakukan oleh suku-suku bangsa di Nusantara ini.

Namun pasca perdamaian, berbagai fenomena spirit pungo beuhe orang Aceh telah salah kaprah, pungo beuhe orang Aceh tidak lagi spirit untuk mempertahankan marwah dan harga diri, tetapi telah bergeser ke arah yang negatif.

Hal itu dapat dilihat dengan fenomena beberapa waktu lalu, di Aceh Timur, seorang anak tega membunuh ibu kandungnya sendiri karena masalah yang sepele dan tidak masuk akal. Di Bener Meuriah seorang suami membunuh istrinya karena masalah sederhana yang ada di dalam rumah tangga, dan berbagai peristiwa kriminal lainya yang terjadi di Aceh.

Itulah sekelumit tafsir pungo di Aceh menurut hemat penulis, kita berharap ragam pungo di Aceh bisa berubah ke pungo yang lebih positif dan spirit-spirit pungo harus ke sektor untuk berbuat kebaikan bukan untuk pungo berbuat kejahatan. Wassalam

Ditulis Oleh, Tibrani Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dah Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP. [acehtrend]